Dua pekerja sedang mengangkat kayu rotan bahan baku kerajinan dan mebel
CIREBON - Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) menolak usaha melakukan serta pembukaan kran ekspor bahan baku rotan. AMKRI sendiri adalah kumpulan dari para pengusaha mebel dan kerajinan rotan. Mereka bergabung dengan AMKRI sebagai wadahnya.
Sonny Tanamas selaku Ketua Dewan Pertimbangan AMKRI Cirebon menyatakan bahwa penolakan itu adalah aspirasi seluruh eksponen industri mebel dan kerajinan rotan yang berada di wilayah Cirebon. Menurutnya, AMKRI akan meningkatkan industri mebel serta kerajinan rotan agar kemungkinan terbukanya pintu ekspor semakin tertutup.
“Kami menolak segala upaya yang ditujukan untuk membuka kran ekspor bahan baku rotan. Kami akan mendorong serta meningkatkan pertumbuhan industri mebel dan kerajinan Indonesia,” katanya.
Menurutnya, pelarangan ekspor bahan baku itu tidak lain adalah salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan industri mebel serta kerajinan rotan Indonesia.
Tidak cukup sampai di situ, pihaknya juga menolak dengan tegas pemberlakuan verifikasi legalitas kayu (SVLK) industri hilir. Selain itu, pihaknya berharap agar realiasi terminal bahan baku rotan, khususnya yang berada di Cirebon, segera dipercepat. Pihaknya juga berharap agar pemerintah pusat dan daerah memberi bantuan, terutama dalam promosi mebel di dalam serta luar negeri.
Lebih jauh, menurut Sonny Tanamas, pembangunan sekolah menengah kejuruan dan perguruan tinggi terkait industri mebel dan kerajinan, terutama rotan di daerah Cirebon, harus segera direalisasikan dan dipercepat. Sebab, menurutnya, industri kerajinan dan mebel di Indonesia membutuhkan peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia.
“Program-program pelatihan yang terintegrasi demi peningkatan kompetensi SDM inilah yang harus segera direalisasikan,” pungkas Sonny Tanamas.







0 komentar:
Posting Komentar