Hingga saat ini, ekspor industri
mebel Indonesia masih kalah dengan ekspor mebel negara-negara tetangga seperti
Malaysia dan Vietnam. Banyak permasalahan yang mengakibatkan produk mebel
Indonesia kalah bersaing dengan produk mebel negara-negara lain. Salah satu
permasalahan itu, menurut Presiden Indonesia Jokowi, terletak dalam usaha
promosi.
Jokowi menunjukkan betapa besar
pasar mebel dunia yang pada tahun 2015 sudah mencapai USD 480 miliar. “Indonesia
baru masuk USD 1,8 miliar,” katanya. Jokowi percaya bahwa industri mebel dapat
dikembangkan dengan cara promosi secara gencar yang dilakukan oleh para duta
besar (dubes) Indonesia yang berada di luar negeri. Dengan kata lain, duta
besar indonesia tidak lain adalah “sales” bagi produk-produk Indonesia,
termasuk mebel. Mereka harus mengenalkan sekaligus mempromosikan produk-produk
mebel Indonesia kepada warga dunia.
Oleh karena itulah, Presiden
meminta kepada para duta besar Indonesia yang berada di luar negeri untuk
menjelaskan produk-produk mebel Indonesia di negara yang ditempatinya. Dengan
begitu, ekspor produk mebel Indonesia dapat didorong.
Menurut Jokowi, hal ini
dikarenakan tidak adanya promosi yang sangat masif dari beberapa perwakilan
Indonesia di luar negeri. Untuk itu, Jokowi meminta kepada para dubes untuk
menjelaskan produk-produk Indonesia. Alasan mengapa nilai ekspor mebel
Indonesia selama ini masih kecil ditengarai Jokowi disebabkan, salah satunya,
oleh absennya para duta besar Indonesia ubtuk mempromosikan produk mebel
Indonesia.
"Perwakilan-perwakilan kita
yang di luar negeri harus mempromosikan produk-produk itu,” kata Presiden yang
juga sempat “mengenyam” sebagai pengusaha mebel tersebut. Ia menambahkan bahwa
jika hal itu tidak segera dilaksanakan dan dibenahi, ekspor mebel tidak akan
berkembang dan tentu saja akan kalah bersaing dengan negara-negara kecil
seperti Malaysia dan Vietnam yang peringkat ekspor mebelnya jauh berada di atas
Indonesia. Padahal, negara-negara itu tidak memiliki sumber daya alam yang
semelimpah dan sekaya Indonesia. Belum lagi, Indonesia juga lebih unggul dalam
jumlah dan murahnya tenaga kerja.
“Kalau tidak begitu,” kata
Jokowi,”enggak nyambung”. Bagaimana tidak, nilai pasar mebel yang mencapai USD
480 miliar hanya dimasuki Indonesia sebesar USD 1,8 miliar saja. Tidak logis.







0 komentar:
Posting Komentar