Entri yang Diunggulkan

Kebakaran Pabrik Mebel Ekspor Mojokerto

Kebakaran PT Mandalindo Tata Perkasa MOJOKERTO  – Berita mengejutkan datang dari Jalan Raya Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojoker...

Tampilkan postingan dengan label mebel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mebel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juli 2016

Putra Jokowi “KKN” di Mojokerto


Desa Gumeng, sebuah desa yang terpecil di daerah Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, beberapa waktu belakangan ramai dibicarakan. Pasalnya, putra orang nomor satu Indonesia yang sempat menjadi pengusaha mebel, Jokowi, sedang menjalankan KKN di sana. Kaesang Pengarep, putra Jokowi, tercatat sebagai mahasiswa Singapore of Institute Management University-Singapore.

Putra Jokowi itu sedang mengikuti Community Outreach Program (COP) yang diselenggarakan oleh Universitas Kristen Petra Surabaya. Community Outreach Program ini sebenarnya bukan KKN. Akan tetapi, mirip sebagaimana KKN yang mengharuskan mahasiswa terjun di masyarakat. Community Outreach Program ini sudah digelar oleh Universitas Petra Surabaya sejak tahun 1996. “Sebelumnya digelar di Kabupaten Magetan selama sepuluh tahun dan Kediri delapan tahun. Sejak tahun 2014 pindah ke Mojokerto,” kata Rolly Intan, Rektor Universitas Kristen Surabaya.

Program Community Outreach Program ini melibatkan sekitar 200 mahasiswa dan bekerja sama dengan universitas di luar negeri. Kebetulan, kali ini University Singapore, tempat Kaesang Pengarep menimba ilmu sebagai mahasiswa menjadi partner Universitas Kristen Petra Surabaya dalam program Community Outreach Program.

Mojokerto dipilih sebagai tempat pelaksanaan Community Outreach Program salah satunya dikarenakan jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Surabaya, kota di mana Universitas Kristen Petra berada. Nantinya, para peserta Community Outreach Program ini akan melakukan berbagai kegiatan di Desa Gumeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.

Para mahasiswa peserta Community Outreach Program ini akan mengerjakan proyek, baik berbentuk fisik maupun non fisik. Proyek fisik biasanya berupa pengadaan/perbaikan jembatan, renovasi sekolah, atau mungkin pipanisasi (pengadaan pipa-pipa untuk pengairan). Jika tempat di mana Community Outreach Program ini masih belum teraliri listrik, tim yang terdiri dari mahasiswa Korea yang ikut program ini akan member donasi panel listrik tenaga matahari. Sedangkan, program non fisik biasanya dapat berupa pendampingan anak dengan mengajar-mengajar di sekolah atau lainnya.

Menurut Rektor Universitas Kristen Petra Surabaya, Rolly Intan, putra Presiden Jokowi yang juga menjadi pengusaha mebel itu, tidak mendapatkan perlakuan khusus dari Universitas. Kaesang ditempatkan di Desa Gumeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto selama 21 hari sejak 14 Juli hingga 4 Agustus 2016 untuk mengikuti program “KKN” Universitas Petra Surabaya ini.


Rabu, 13 Juli 2016

China, Raja Ekspor Mebel Dunia


Tanda-tanda kebangkitan ekonomi China sudah banyak ditulis dan diprediksikan oleh para pakar perekonomian dunia. China saat ini telah menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia yang layak untuk disegani. Berbagai catatan pertumbuhan ekonomi telah dicetak oleh China. Salah satunya adalah terkait produk mebel. China pada tahun ini menjadi jawara nilai ekspor produk mebel ke seluruh penjuru dunia.

Setelah mencatatkan diri sebagai negara yang paling banyak menyelesaikan pembangunan gedung pencakar langit di tahun 2015, China kali ini menyematkan diri sebagai negara yang paling besar mencatatkan nilai ekspor produk mebelnya ke seluruh dunia. Tidak tanggung-tanggung, nilai ekspor mebel dan kerajinan China menembus angka USD 65 miliar per tahunnya. Nilai itu setara dengan Rp. 848 triliun. Nilai yang cukup fantastis.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Beberapa tahun belakangan, peringkat ekspor industri mebel Indonesia mengalami penurunan. Bahkan, Indonesia harus rela berada di bawah negara kecil tetangganya, Vietnam dan Malaysia.

Pada tahun 2013, menurut data UN Comtrade, Indonesia masih berada di peringkat ke-18 dalam hal ekspor industri mebel. Kalah jauh dengan Vietnam dan Malaysia. Nilai ekspor industri mebel Indonesia senilai USD 1,8 miliar dan industri kerajinan hanya USD 800 juta.

Pada 3 tahun lalu itu, Vietnam sudah menempati peringkat ke-7 ekspor mebel dunia dengan angkat ekspor mencapai USD 5,3 miliar dan Malaysia menempat urutan ke-11 dengan nilai ekspor mebel sebesar USD 2,3 miliar. Padahal, sekitar 13 tahun yang lalu, nilai ekspor Vietnam masih kecil, yakni senilai USD 20 juta. Sedangkan Malaysia pun tidak mempunyai bahan baku industri mebel.


Peringkat Indonesia yang berada di urutan ke-18 itu turun lima peringkat apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang menempati posisi ke-13 ekspor mebel dunia. Fakta ini tentu saja haru menjadi pelecut Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas serta nilai ekspor industri mebel dan kerajinannya. Beberapa waktu lalu, presiden Jokowi sudah mendorong dan mentarget ekspor mebel Indonesia agar bisa mencapai nilai USD 5 miliar. Namun, tentu saja, butuh langkah-langkah kongkrit untuk itu. 

Selasa, 12 Juli 2016

Kisah Jokowi di Dunia Mebel (Part 1)


Presiden Jokowi sedang blusukan melewati sungai
Siapa yang tidak kaget dengan kesuksesan Jokowi yang begitu cepat dalam bidang pemerintahan. Setelah menjadi wali kota Solo, ia menjadi Gubernur DKI dan langsung mencalonkan diri sebagai presiden. Hasilnya, ia berhasil menjadi orang nomor 1 di Indonesia.

Orang akan dibuat takjub dengan kesuksesan yang begitu cepat itu. Bagaimana tidak, ketika ia mencalonkan diri sebagai wali kota saja, banyak orang yang memandangnya sebelah mata. Pasalnya, ia adalah pedagang mebel rumah dan taman. Nyatanya, ia berhasil terpilih sebagai wali kota Solo dan memimpinnya dengan gemilang. Bahkan, kesibukannya sebagai wali kota pun tidak menghentikan usahanya sebagai pebisnis mebel.

Ia tidak pernah bermimpi dan bercita-cita menjadi wali kota. Ia malah bercita-cita sebagai tukang kayu. Latar belakang orang tuanya sebagai penjual kayu dan bambu di bantaran sungai Karanganyar barangkali banyak mempengaruhinya dalam hal cita-cita menjadi tukang kayu, meski di kemudian hari ia menjadi pebisnis mebel. Ia memang lahir dari kalangan bawah. Bapaknya, Noto Mihardjo hanyalah seorang penjual kayu gergajian.

Sebagai anak penjual kayu, Jokowi kecil terbiasa dengan hidup yang serba susah dan kekurangan. Jangankan untuk membayar sekolah, tidak jarang untuk makan pun masih kesulitan. Sebagaimana umumnya anak kecil, Jokowi kecil sangat suka bermain dengan kawan-kawannya.  Sewaktu kecil, hobinya mandi di sungai sambil mencari telur bebek hingga dapat. Selain itu, di waktu kecil, ia juga suka bermain layang-layang, memancing serta bermain sepak bola dengan kawan-kawannya.

Pria kelahiran 21 Juni 1961 ini memiliki tiga adik perempuan. Ia anak sulung dari Noto Mihardjo. Sebagai anak sulung, ia sering membantu ibunya, Sujiatmi, untuk mengasuh ketiga adiknya. Kadang ia mengantarkan mereka ke sekolah, kadang membantuk mereka mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan, ketika adik-adiknya menginjak usia remaja dan sedang ada masalah dengan pacarnya, Jokowi muda tidak jarang turut membantu menyelesaikan masalah itu.

Ia begitu bangga menceritakan bagaimana ketika masih duduk di sekolah, nilainya selau bagus. Meskipun tidak menjadi jawara kelas, nilainya tidak bisa dibilang buruk. Padahal, selain bersekolah, setiap hari ia juga membantu orang tuanya bekerja.

Senin, 11 Juli 2016

Vietnam, Kiblat Baru Industri Mebel Indonesia

Jokowi Minta Ekspor Mebel Penuhi Target USD 5 Miliar. sumber: setkab.go.id
JAKARTA – Sebagai salah satu warga dunia, Indonesia juga perlu menjaga hubungannya dengan Negara-negara lain yang berada di belahan dunia. Salah satu cara untuk menjaga hubungan itu biasanya dilakukan dengan kerjasama bilateral atau dengan diplomasi. Namun, ada juga cara lain yang harus ditempuh, yakni saling belajar satu sama lain.

Dalam hal industri mebel, Indonesia sudah selayaknya belajar dari negara-negara tetangganya seperti Vietnam dan Malaysia serta negara-negara lainnya yang berada di kawasan Asia Tenggara. Pasalnya, pertumbuhan industri mebel Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan negara kecil macam Malaysia dan Vietnam. Sudah sepatutnya Indonesia menjuarai industri mebel dunia. Sebab, negara Indonesia yang terkenal gemah ripah loh jinawi ini sangat kaya sumber daya alam. Terutama kayu-kayu yang terdapat di hutan-hutan luas Indonesia. Asalkan dengan tetap menjaga kelestariannya demi menjaga keberlangsungan industri mebel itu sendiri.

Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) menyatakan bahwa kekuatan utama indonesia terkait industri permebelan adalah kelebihannya dalam bidang sumber daya alam dibanding negara-negara lainnya. "Semua persoalan bisa dihadapi. Lihatlah negara Vietnam, China, Malaysia yang lebih maju dari Indonesia. Padahal mereka tidak sekaya kita dalam hal kayu dan rotan," ujar Abdul Sobur, Sekjen AMKRI

Abdul Sobur berharap, pemerintah dapat belajar dengan melihat bagaimana proses pengelolaan dan pengeluaran kebijakan yang berkaitan dengan industri mebel di negara-negara tersebut. Dengan begitu, kualitas industri mebel Indonesia dapat ditingkatkan, minimal setara dengan negara-negara tersebut, bahkan melebihi.

Kata Sekjen AMKRI itu, pemerintah Indonesia harus belajar dengan melihat adanya banchmarking kepada sesama negara Asia Tenggara. “Kok bisa lebih hebat dari kita?,” kata Sekjen AMKRI itu. Padahal, seperti kita tahu, semua negara-negara yang telah disebutkan di atas tidak memiliki kekayaan dan sumberdaya alam semelimpah Indonesia. Menurutnya, persoalannya terletak pada regulasi yang kurang bagus serta dorongan dari pemerintah yang masih minim.


Sebelumnya, diberitakan, saat ini Indonesia masih berada di bawa Vietnam dan Malaysia dalam nilai ekspor industri permebelan. Nilai ekspor industri mebel Vietnam telah mencapai USD 6,8 miliar dan Malaysia sebanyak USD 2,4 miliar. Sedangkan, nilai ekspor industri mebelIndonesia masih berada di kisaran USD 1,93 miliar. 

Minggu, 10 Juli 2016

Jokowi: Permasalahan Ekspor Mebel Ada di Promosi


Hingga saat ini, ekspor industri mebel Indonesia masih kalah dengan ekspor mebel negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam. Banyak permasalahan yang mengakibatkan produk mebel Indonesia kalah bersaing dengan produk mebel negara-negara lain. Salah satu permasalahan itu, menurut Presiden Indonesia Jokowi, terletak dalam usaha promosi.

Jokowi menunjukkan betapa besar pasar mebel dunia yang pada tahun 2015 sudah mencapai USD 480 miliar. “Indonesia baru masuk USD 1,8 miliar,” katanya. Jokowi percaya bahwa industri mebel dapat dikembangkan dengan cara promosi secara gencar yang dilakukan oleh para duta besar (dubes) Indonesia yang berada di luar negeri. Dengan kata lain, duta besar indonesia tidak lain adalah “sales” bagi produk-produk Indonesia, termasuk mebel. Mereka harus mengenalkan sekaligus mempromosikan produk-produk mebel Indonesia kepada warga dunia.

Oleh karena itulah, Presiden meminta kepada para duta besar Indonesia yang berada di luar negeri untuk menjelaskan produk-produk mebel Indonesia di negara yang ditempatinya. Dengan begitu, ekspor produk mebel Indonesia dapat didorong.

Menurut Jokowi, hal ini dikarenakan tidak adanya promosi yang sangat masif dari beberapa perwakilan Indonesia di luar negeri. Untuk itu, Jokowi meminta kepada para dubes untuk menjelaskan produk-produk Indonesia. Alasan mengapa nilai ekspor mebel Indonesia selama ini masih kecil ditengarai Jokowi disebabkan, salah satunya, oleh absennya para duta besar Indonesia ubtuk mempromosikan produk mebel Indonesia.

"Perwakilan-perwakilan kita yang di luar negeri harus mempromosikan produk-produk itu,” kata Presiden yang juga sempat “mengenyam” sebagai pengusaha mebel tersebut. Ia menambahkan bahwa jika hal itu tidak segera dilaksanakan dan dibenahi, ekspor mebel tidak akan berkembang dan tentu saja akan kalah bersaing dengan negara-negara kecil seperti Malaysia dan Vietnam yang peringkat ekspor mebelnya jauh berada di atas Indonesia. Padahal, negara-negara itu tidak memiliki sumber daya alam yang semelimpah dan sekaya Indonesia. Belum lagi, Indonesia juga lebih unggul dalam jumlah dan murahnya tenaga kerja.


“Kalau tidak begitu,” kata Jokowi,”enggak nyambung”. Bagaimana tidak, nilai pasar mebel yang mencapai USD 480 miliar hanya dimasuki Indonesia sebesar USD 1,8 miliar saja. Tidak logis.

Sabtu, 09 Juli 2016

Omzet Sentra Mebel Kalimalang Menurun Akibat Pelebaran Jalan

Seorang Pekerja Mebel Sedang Mengerjakan Sebuah Kerajinan Mebel
JAKARTA - Salah satu dampak negatif pembangunan biasanya banyak berimbas ke pengusaha kecil dan UMKM. Sudah tidak terhitung lagi kita mendengar dan membaca cerita-cerita penggusuran demi penggusuran di kota-kota besar di Indonesia. Yang selalu menjadi korban adalah rakyat-rakyat kecil. Sebab, tumbal selalu dibutuhkan demi memuluskan laju pembangunan yang syarat dengan modal besar yang tersentralisasi. Di Jakarta contohnya.

Kita tahu, Jakarta memiliki sentra mebel yang sudah cukup dikenal di sana. Diantaranya adalah sentra mebel Kalimalang, Klender, serta Pondok Gede.  Kisah penurunan omset yang lumayan signifikan. Sejak dilakukan pelebaran jalan, banyak penjual di sentra mebel Kalimalang merasakan dampak buruk dari pembangunan infrastruktur ini. Penjualan mereka dari hari ke hari makin menurun. Sangat berbeda dengan kondisi penjualan mereka di hari-hari, bulan-bulan, serta tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu dampak negatif dari pembangunan infrastruktur Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu adalah menurunnya omzet dari para penjual yang ada di sentra mebel Jalan Inspeksi Kalimalang. Sebab, jalur tol yang sedang dibangun itu nanti akan melintasi Jalan Inspeksi Kalimalang. Demi memuluskan jalur tol itu, pelebaran jalan juga dilakukan.

Oleh karena itu, bangunan-bangunan yang berada di kiri jalan dari arah Cawang ke Bekasi harus rela tergerus. Salah satunya adalah toko-toko mebel yang berada di sentra Mebel Kalimalang. Kebetulan, lokasi sentra mebel Kalimalang berdekatan dengan Mal Cipinang Indah.


Akibatnya, omzet para penjual di sana harus terus menurun. Sebagaimana yang diungkapkan oleh pemiliki Toko Azki Karya Rotan, Azman, bahwa omzetnya turun di kisaran angka 30-40 %. Menurutnya, penurunan omzet itu terjadi sejak pelebaran jalan dilakukan. "Tidak seperti pertama kali jualan," katanya. Menurut Azaman, sebelum pelebaran jalan, tiap bulan omzetnya bisa mencapai Rp. 50.000.000, bahkan lebih. Akan tetapi, setelah ada pelebaran jalan, omzetnya hanya berada di kisaran angka Rp. 20.000.000 - Rp. 30.000.000. Tentu kita sudah tidak asing dengan cerita yang sehari-hari kita dengar, lihat, dan baca sebagaimana penurunan omzet penjualan yang diakibatkan oleh pembangunan yang katanya diikhtiarkan untuk mensejahterakan. Jadi, rakyat mana yang sejahtera?

Rabu, 06 Juli 2016

Mebel Jakarta Pasok Bahan dari Jepara

Pekerja Mebel Jepara sedang mengerjakan berbagai model mebel
JAKARTA - Jakarta tidak hanya terkenal sebagai kota besar. Kota ini juga punya banyak sentra mebel. Diantaranya adalah yang ada di Jalan Kalimalang serta Klender. Selain kedua sentra mebel itu, Jakarta juga masih memiliki sentra mebel yang berada di Jalan Raya Pondok Gede yang tidak kalah kualitasnya dengan Kalimalang dan Klender. Harganya pun tidak selisih jauh. Jika kedua sentra mebel yang disebut di awal memasok bahannya dari Jepara, begitu juga dengan sentra Mebel di Jalan Raya Pondok Gede.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh pengelola Toko Mebel Tiara Putra, Anto, tokonya pun juga memasok bahan kayu jati dari Jepara. Toko Mebel Tiara Putra ini terletak di depan Komplek Dirgantara Pondok Gede Jakarta Timur.
Menurut Anto, kebanyakan toko yang berada di daerah sekitarnya pun juga memasok bahan dari Jawa Tengah, khususnya Jepara. "Mulai dari polos hingga ukiran," katanya. Meski jumlah toko mebel yang berada di Jalan Raya Pondok Gede tidak sebanyak sebagaimana yang ada di Kalimalang, namun, kualitasnya boleh diadu.
Toko yang dikelola Anto ini menawarkan berbagai furniture dan jenis mebel. Mulai dari meja makan, kursi, meja rias, tempat tidur, lemari, dlsb, ditawarkan di toko ini. Harganya pun bermacam-macam, ada yang dibanderol Rp. 3.000.000 hingga dihargai Rp. 7.000.000.
Anto mengatakan bahwa stok furniturenya tergantung permintaan. Untuk kursi ukir biasanya ia banderol seharga Rp. 8.000.000 hingga Rp. 9.000.000. Sedangkan, untuk kursi polos biasanya hanya dibanderol Rp. 5.000.000 saja. Lain halnya dengan almari polos yang biasanya dihargai dengan Rp. 6.000.000. Pengerjaan produk mebelnya semuanya dikerjakan di Jepara dan untuk finishingnya ia kerjakan di tokonya.
Toko Mebel Tiara Putra sudah berdiri sejak lima tahun yang lalu. Toko ini menerima berbagai pesanan dan perbaikan segala furniture dan mebel.

Senin, 04 Juli 2016

Ekspor Bahan Baku Rotan Ditolak Para Pengusaha

Dua pekerja sedang mengangkat kayu rotan bahan baku kerajinan dan mebel

CIREBON - Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) menolak usaha melakukan serta pembukaan kran ekspor bahan baku rotan. AMKRI sendiri adalah kumpulan dari para pengusaha mebel dan kerajinan rotan. Mereka bergabung dengan AMKRI sebagai wadahnya. 
Sonny Tanamas selaku Ketua Dewan Pertimbangan AMKRI Cirebon  menyatakan bahwa penolakan itu adalah aspirasi seluruh eksponen industri mebel dan kerajinan rotan yang berada di wilayah Cirebon. Menurutnya, AMKRI akan meningkatkan industri mebel serta kerajinan rotan agar kemungkinan terbukanya pintu ekspor semakin tertutup.
“Kami menolak segala upaya yang ditujukan untuk membuka kran ekspor bahan baku rotan. Kami akan mendorong serta meningkatkan pertumbuhan industri mebel dan kerajinan Indonesia,” katanya.
Menurutnya, pelarangan ekspor bahan baku itu tidak lain adalah salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan industri mebel serta kerajinan rotan Indonesia.
Tidak cukup sampai di situ, pihaknya juga menolak dengan tegas pemberlakuan verifikasi legalitas kayu (SVLK) industri hilir. Selain itu, pihaknya berharap agar realiasi terminal bahan baku rotan, khususnya yang berada di Cirebon, segera dipercepat. Pihaknya juga berharap agar pemerintah pusat dan daerah memberi bantuan, terutama dalam promosi mebel di dalam serta luar negeri.
Lebih jauh, menurut Sonny Tanamas, pembangunan sekolah menengah kejuruan dan perguruan tinggi terkait industri mebel dan kerajinan, terutama rotan di daerah Cirebon, harus segera direalisasikan dan dipercepat. Sebab, menurutnya, industri kerajinan dan mebel di Indonesia membutuhkan peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia.
“Program-program pelatihan yang terintegrasi demi peningkatan kompetensi SDM inilah yang harus segera direalisasikan,” pungkas Sonny Tanamas.
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net